“Menghitung Pucuk Kamboja”
Mungkin cerita singkat dalam syair ini sudah sering kalian
dengar, dan bahkan seringkali kalian mengalami hal yang sama sepertiku, atau bahkan
kalian sendiri yang merasakannya. Tapi yang ku inginkan bukan pamer atau
mengiba, aku hanya tak ingin kisah ini hilang begitu saja seperti angin yang
baru saja datang menerpa ku atau lagu yang entah judul apa ku dengarnya namun
aku sendiri melupakan lagu yang bahkan membuatku kembali menari dengan penaku.
Dia adalah kiyai dekat pondok pesantren
yang dulu pernah mendidik budi pekertiku. Yang ku khawatirkan adalah kiyai yang
memang sejak lama tak pernah ku datangi, tepatnya sejak 2 tahun terakhir, yang
kutakutkan tak sempat ku temui dirinya. Yang kutakutkan tak bisa lagi ku
mendoakan na selagi beliau terbaring. Mengingat itu pun aku menyumpahi diriku
yang durhaka ini. Meningat usia tiada yang bisa mengetahui. Mengingatnya bak
hidup dan mati begitu dekat tanpa satir lagi.
Kala itu aku tengah berada diantara kesibukan yang piruk dan
kikuk di almamater yang membesarkan pengalamanku. Suatu malam diantara
kelelahan yang tak karuan ku rebahkan kembali tubuh dan fikiranku yang kaku. Ku
buka alat kecil yang kini paling hitz dan menjadi mainan anak- anak jaman now
yah.. tentu saja dia si telfon genggam. Dan terfon genggam yang bersuara
seperti biasa dengan suasana yang biasa dengan nadanya yang biasa dengan
chat-chat dari grup yang biasanya itu mengejutkan ku yang hobbinya hanya nyimak
chat. Kabar duka datang tanpa permisi dan tentunya mengejutkanku, tanpa
berfikir panjang aku pun berencana pulang.
Dia memang bukan yang ku kenal
Namun dalam diriku yang mengenalnya,
ku hormati dia
Dia memang tak pernah menjadi orang tuaku
Namun aku kerap menjumpai senyuumnya diteras yang kini,
menjadi teras
duka
Dia memang tak pernah langsung perduli
Namun kerap kujumpai didikanya yang bagiku, itu penghargaan tertinggi..
..................................Bersambung………………...........

Komentar
Posting Komentar