Kontribusi dimasa pandemi: Merdeka dalam Belajar
Corona Virus Disease (COVID-19) telah dipatenkan sebagai pandemi diseluruh belahan dunia oleh WHO (WHO, 2020). Hal ini didukung oleh wabah yang meluas hampir diseluruh dunia sehingga melumpuhkan aspek-aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial, agama dan pendidikan. Menurut WHO, semua virus, termasuk virus corona baru atau SARS-CoV-2, berubah seiring waktu yang mengakibatkan Sebagian besar tidak berdampak langsung ke kesehatan masyarakat. Hal ini sudah banyak diabaikan dan dianggap hanya sekedar pengumuman bagi daerah yang tidak terdampak pandemi.
Dari tahun pertama hingga tahun ke dua terjadinya pandemi di Indonesia, faktanya justru semakin meningkat yang ditandai dengan adanya perkembangan virus baru, Indonesia setidaknya terdeteksi tiga varian diantara enam varian virus corona, yakni varian Inggris B117 yang lebih menular, varian dengan mutasi E484K atau Eek, dan varian B1525. Meskipun begitu masalah pendemi pun semakin menjadi penghalang beberapa kemajuan di bidang apapun kecuali kesehatan. Kebijakan pemerintah sudah banyak yang tidak sejalan dengan realita yang disampaikan seperti banyak pejabat yang masih mengadakan kerumunan sedangkan kebijakan berkerumun sudah lama di larang.
Presiden Jokowi meresmikan kebijakan work from home sejak 2 maret 2020 sebagai upaya pemerintah agar penyebaran virus ini tidak semakin cepat menyebar. Meskipun berbagai upaya pencegahan digalakkan oleh pemerintah baik pembatasan sosial berskala besar, operasi masker, peletakan alat pelindung seperti masker atau tempat cuci tangan, test Rapid ataupun Antigen, total kasus di indonesia terkonfirmasi COVID-19 per tanggal 30 April 2021 terjadi 1,67 juta kasus, 1,57 juta sembuh dan 45.521 kematian. Meski demikian, upaya percobaan kebijakan hari ini sudah memasuki rencana kebijakan pelonggaran aktivitas sosial atau disebut (New Normal). Yang menjadi kesempatan untuk kembali ke kehidupan normal sebelum korona.
Akan tetapi memang adanya kebijakan masih membuat seluruh masyarakat harus menjalankan kerja dari rumah, berkomunikasi dengan media online, bertemu dengan menjaga jarak dan bahkan lingkup akademik pun diharuskan dijadwalkan libur serta menggantikan dengan kelas online atau daring. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak usaha peningkatan mutu pendidikan harus ditutup dan pelaksaannya menjadi kurang efektif dengan dorongan pembatasan pembatasan di sektor pendidikan.
Dampak dari adanya kasus Covid-19, telah merubah susunan kurikulum belajar dengan menggunakan alternatif teknologi yang lebih maju. Meskipun sejatinya belum ada persiapan yang cukup dalam pelaksanaannya dan belum ada cukup waktu bagi beberapa guru untuk mengikuti pembelajaran melalui jaringan teknologi. Banyak sekolah yang belum bisa melakukan kegiatan belajar daring secara efektif dan memilih untuk memberikan libur hingga satu semester. Akan tetapi siswa dan guru diwajibkan menjalankan kelas dari rumah adalah solusi terbaik dimasa pendemi covid 19 yang merujuk kepada surat edaran yang dikeluarkan oleh Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang pencegahan Covid-19 pada satuan pendidikan.
Seperti yang kita ketahui, dunia pendidikan adalah satu-satunya jalan yang menjadikan setiap siswanya untuk tetap belajar maju. Banyak masyarakat masih berharap pendidikan bisa terlaksana seperti semula karena merasa generasi muda semakin berada pada kemalasan dan hilang minat untuk belajar. Jika pandemi ini tidak segera selesai, usia anak yang tiba-tiba tumbuh dewasa tanpa pendidikan. Kesempatan berkembang dan mendapatkan cita-cita sebelumnya semakin gagal pun akan menjadi masalah besar di kemudian hari.
Kesempatan untuk bergerak dan melangkah maju di dunia pendidikan memang seperti hal nya terlihat semakin sempit. Masih banyak masyarakat yang ingin memberikan pendidikan terbaik akan tetapi ekonomi semakin menghimpit dan sekolah terbaik seperti apapun dilaksanakan daring seakan sekolah dimanapun hampir tidak ada bedanya. Belajar online memiliki dampak negatif lebih banyak dibandingkan positif. Tentu saja dari segi kurikulum ataupun objek yang melaksanakan pendidikan tersebut.
Selain itu, adanya edukasi belajar yang hanya melalui proses online masih dipercaya kurang efektif karena hanya mendahulukan tugas dan mengesampingkan pemahaman siswa. Banyak siswa yang hanya mengerjakan dibantu dengan google dan brainly untuk menjawab soal yang diberikan guru. Hal tesebut semakin parah karena siswa yang mengerjakan pun tidak memahami apa yang telah dikerjakan. Disisi lain, guru tidak diberikan apresiasi dan arahan yang ketat dalam pelaksanaan kegiatan belajar sehingga situasi belajar menjadi kurang terlaksana dengan baik dan membuat siswa hilang semangat serta niat untuk belajar.
Padahal permasalahan pendidikan bisa memberikan sedikit perubahan ditengah penurunan di aspek lain dimasa pandemi. Beberapa orang mungkin berfikir, setidaknya meskipun sekolah libur dan lulus tanpa perayaan, masih bisa mengambil waktu untuk belajar dan mengembangkan diri disela waktu yang tidak memungkinkan. Karena nilai bukan segalanya, nilai sudah bukan menjadi tolak ukur dalam seleksi, masih ada kesempatan untuk belajar skill dan soft skill untuk menghabiskan waktu dimasa pandemi ini, sehingga jika pandemi telah usai kita sudah siap dengan hal yang lebih baik yang tidak sia-sia.
Banyak jalur informasi yang bisa menjadi kesempatan belajar mandiri seperti dari youtube tutorial, Aplikasi belajar dan latihan, membaca buku, dan tidak menutup kemungkinan untuk menjadi produktif dengan mengembangkan kreatifitas ataupun melakukan berbagai pengalaman dengan kehidupan disekitar kita. Pendidikan masih mungkin didapatkan dari mana saja bahkan dari pemikiran kita sendiri dalam menanggapi sesuatu masalah dan bahkan cerita pengalaman orang lain. Ilmu bisa saja didapatkan dari disekolah akan tetapi tetapi dengan niat belajar kita sebenarnya bisa belajar dari sisi mana pun.
Indonesia memiliki mimpi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Jalur pendidikan menjadi pintu dan ilmu menjadi kuncinya. Memberikan kontribusi seperti apapun untuk dirimu akan menjadi hal baik untuk langkah kedepan. Di dunia pendidikan, jika masih banyak guru lain belum menemukan jalan menjalankan pendidikan dengan perkembangan yang ada, maka disitulah ada kesempatan menjadi guru dengan melatih diri jauh kedepan.
Jika ada kesempatan untuk belajar dengan target yang tepat dan mengembangkan generasi muda dari pengalaman, maka jadilah berbeda dengan tambahan memberikan motivasi dan dorongan untuk tetap melangkah. Meski hanya sepuluh anak muda yang masih memiliki motivasi dan kesempatan untuk membebaskan diri dari pendidikan, lalu meraih impian dengan merubah langkah kedepan dengan melihat adanya kesempatan. Itu lebih baik daripada tidak sedikitpun melangkah dan berhenti melakukan sesuatu untuk maju.
Pandemi bukanlah masa akhir untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan masih merdeka diantara pikiran dan langkah kita. Masih banyak waktu yang bisa dimanfaatkan dengan belajar dan menjadi berpengalaman. Pengaruh pendidikan terbesar berada dalam niat dan cara melihat kesempatan. Setiap orang dilarang untuk sekolah akan tetapi tidak dilarang untuk belajar. Setiap orang dilarang untuk bekerja tapi tidak dilarang untuk membuka usaha. Setiap orang dilarang untuk keluar rumah tapi tidak dilarang untuk keluar merubah arah dan membawa rumah ketempat yang lebih tinggi.
Merdekakan diri untuk berpendidikan. Merdekakan langkah untuk menggapai impian. Merdekakan semua ketidakmungkinan menjadi kesempatan. "Bermimpilah setinggi-tingginya, jika jatuh kau akan jatuh diantara bintang-bintang" -ir soekarno. Lalu “Hiduplah seakan-akan kamu akan mati besok. Belajarlah seakan-akan kamu akan hidup selamanya.” Mahatma Gandhi.
Komentar
Posting Komentar